Oleh: Ah Maftuchan
“Sejarah Indonesia itu adalah sejarahnya angkatan muda.
Jangan lupa itu!!” – Pramoedya Ananta Toer –
Pernyataan di atas adalah ucapan Pramoedya Ananta Toer, sastrawan besar Indonesia, yang acap kali disampaikannya dalam beberapa kesempatan. Sewaktu penulis ketemu langsung dengan Bung Pram, pada medio Desember 2004, pernyataan itu menjadi pembuka obrolan-obrolan yang berlangsung. Banyak kawan, yang mempunyai kesempatan membeli majalah PlayBoy Indonesia edisi perdana yang memuat wawancara dengan Pram, bertutur bahwa Pram kembali mengutarakan pernyataan tersebut. Ada apa dengan “angkatan muda”? Apa hubungan “angkatan muda” dengan sejarah Indonesia? Kita semua layak melontarkan pertanyaan-pertanyaan tersebut. Semua itu akan penulis coba urai dalam tulisan berikut. Dalam tulisan ini, pernyataan Pram di atas tidak hendak penulis ‘bedah’ dan ‘uraikan’, tetapi ‘hanya’ akan kami jadikan sebagai pembuka dan dasaran – meminjam istilahnya Ir. Soekarno sebagai philosophische grondslag.
Tanpa keraguan sedikit pun, jika menempatkan “angkatan muda” sebagai salah satu kekuatan yang signifikan dalam gerak sejarah Indonesia. Kalau kita mau membuka catatan sejarah, yang barang-kali sudah dipelajari di bangku sekolah dasar, banyak catatan ‘kepahlawanan’ yang pernah diukir oleh “angkatan muda”. Secara tradisional “pemuda” adalah satu tahap tersendiri dalam garis busur kehidupan antara masa kanak-kanak dan dewasa. Tetapi Ben Anderson, guru besar Universitas Cornell, dalam buku Revoloesi Pemoeda memberi pengertian atas “pemuda” secara lebih luas dan melewati busur kehidupan tersebut. Anderson mengatakan bahwa kata “pemuda” juga menunjukkan corak kebudayaan otonom yang membedakan dirinya dari masyarakat tradisional melalui penentangan yang sistematis. Terminologi “angkatan muda” dalam uraian ini kami sinonimkan dengan “pemuda” dan “mahasiswa”. Bahkan kalau dapat diperluas, juga dapat disinonimkan dengan semua orang dari usia berapapun yang masih memegang “semangat muda”.
Apa itu “semangat muda”? “Semangat muda” adalah mentalitas manusia yang masih teguh memegang prinsip “perubahan”, “keadilan” dan “kemanusiaan” sebagai sesuatu yang digenggam erat dalam laku kehidupannya. Sebuah prinsip yang menjadi pegangan dalam berpikir dan bertindak. Prinsip inilah yang selama ini menjadi pijakan atas ‘sepak-terjang’ dan praktik sosial-politik kaum muda. Prinsip itu juga yang menjadi garis pemisah antara “angkatan muda” dengan “angkatan tua”. Kelompok yang terakhir, yaitu “angkatan tua” adalah kelompok yang cenderung ‘established’(mapan) atau bagian dari status quo (struktur kekuasaan sosial-politik lama) yang biasanya menindas. Dus, yang dapat dimasukkan dalam kategori “angkatan muda” menjadi luas. Karena muda dan tua seseorang tidak hanya ditentukan oleh faktor usia biologis, tetapi juga oleh mentalitas.
Awal dari Awalan
Indonesia modern tidak dapat dilepaskan dari sejarah penjajahan satu bangsa oleh bangsa lainnya dan penindasan oleh manusia terhadap manusia lainnya, exploitation de l’homme par l’homme. Indonesia, waktu itu Nusantara, pernah mengalami fase panjajahan yang sangat panjang. Bangsa-bangsa Eropa silih berganti menjajah; menindas rakyat dan mengeruk kekayaan alam yang ada. Kerajaan Belanda menjadi bangsa penjajah terlama. Di sisi yang berbeda, penjajahan juga melahirkan pemberontakan dan perlawanan.
Adalah Tirto Adhi Soerjo / TAS (1880 – 1918), anak bangsawan Jawa dan seorang jurnalis. Melawan pemerintahan Hindia Belanda dengan tulisan. Tulisan-tulisannya mengandung kritikan yang keras terhadap pejabat pemerintahan kolonial. Pembuangan, pembunuhan karakter, intimidasi dan kekerasan fisik adalah sesuatu yang lazim dialaminya. Mas Marco Kartodikromo, seorang murid TAS, menempatkan TAS sebagai “pelopor jurnalisme” di Indonesia. Kegiatan jurnalistik yang diabdikan bagi pergerakan Boemi-Poetra menentang Belanda. TAS menjadi seorang wartawan dan pengarang yang karena tulisan-tulisannya bisa membuat para pejabat ‘muntah-darah’. Mas Marco menambahkan pujian terhadap TAS sebagai seorang yang “menggoncang Boemi-Poetra bangun dari tidurnya”. Tidak kurang, Pram menempatkan TAS sebagai “Sang Pemula” bagi perjuangan pembebasan Indonesia.
Laku TAS merepresentasikan kaum muda dalam mengawali sebuah sejarah yang paling menentukan bagi perjuangan kemerdekaan Indonesia. Itulah awal dari sebuah awalan lembar pembukaan bagi cita-cita dan perjuangan anak-anak negeri. Anak-anak yang mendambakan kebebasan dan kemuliaan. Apa yang dilakukan TAS menandai kebangkitan Boemi-poetra pada awal abad ke-20. Oleh Takashi Shiraishi, guru besar Universitas Cornell dan Universitas Kyoto, digambarkan sebagai “zaman bergerak”. Di mana Boemi-Poetra bergerak mencari bentuk untuk menampilkan kesadaran politik mereka yang baru dan untuk menggerakkan pikiran-gagasan ditengah kenyataan Nusantara yang terjajah.
Slowly but sure, pergerakan demi mewujudkan cita-cita kemerdekaan mengalir seperti lava gunung berapi. Pelan, tapi siap menerjang kerasnya tembok dari benteng pertahanan Belanda. Satu per satu “angkatan muda” muncul. Kaum muda Indonesia yang hidup dalam “politik-etis” Belanda mempunyai kesempatan mendapatkan pendidikan. Dengan pendidikan yang dienyam, mereka menemukan bentuk-bentuk perlawanan. Ada hubungan yang erat antara pengetahuan-pendidikan dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Munculnya organisasi pergerakan, organisasi profesi, karya sastra, jurnal dan surat kabar, teater, rapat umum dan pemberontakan-pemberontakan menandai maraknya pergerakan “angkatan muda” pada permulaan abad ke-20.
Sekadar menyebut beberapa orang dan kelompok sebagai contoh; muncullah R.A. Kartini dengan surat-suratnya, dr. Wahidin Soedirohoesodo dengan organisasi Boedi Oetomo, TAS dan Haji Samanhudi dengan Sarikat Dagang Islam, Indische Partij dan Partai Komunis Indonesia. Setelah itu, organisasi kepemudaan marak; Jong Java, Jong Pasundan, Sumatranen Bond, Jong Minahasa, Timorsch Verbond, Pakempalan Politik Katolik Jawa dan lain sebagainya. Kemudian disusul oleh Soekarno dengan Partai Nasional Indonesia (PNI), dan lain sebagainya. Peristiwa yang paling bersejarah adalah ketika para pemuda seantero Nusantara pada tahun 1928 berkongres dan menghasilkan “Sumpah Pemuda”. Dan dengan dikumandangkannya “Indonesia Raya” semakin mempertegas lahirnya komitmen kebangsaan yang satu. Sederet nama mulai Soekarno, Sjahrir, Tan Malaka, Hatta menjadi tokoh-tokoh baru yang mempunyai pengaruh cukup besar bagi pergerakan.
Ketika Soekarno, Hatta dan kawan-kawan seperjuangannya sudah mulai menjadi “tua”, sungguh beruntung Indonesia mempunyai pemuda Sukarni, Chairul Saleh, Wikana dan kawan-kawan. “Angkatan muda” Sukarni cs. sangat menentukan perjalanan revolusi kemerdekan Indonesia. Tanpa penculikan terhadap Soekarno-Hatta oleh mereka “angkatan muda”, proklamasi kemerdekaan mungkin tidak akan terdengar pada pagi hari tanggal 17 Agustus 1945. Drama penculikan terhadap Soekarno-Hatta menjadi catatan sejarah yang sangat manis bagi “angkatan muda”. Pemuda menjadi “avant-garde”, “front-line” perubahan Indonesia. Di tangan pemudalah proklamasi kemerdekaan terwujud. Sekali lagi, sejarah mencatat bahwa pemuda menjadi pemecah kebuntuan situasi yang berlarut.
Ketika pemerintahan Soekarno mengalami keterpurukan dan krisis yang berkepanjangan pada decade 1965/1966, “Gerakan Mahasiswa ‘66” memegang peranan dalam perjalanan sosial-politik Indonesia. Tumbangnya Soekarno tidak dapat dilepaskan dari gelombang demonstrasi besar-besaran mahasiswa pada saat itu. Tanpa bermaksud menafikan adanya pertarungan “tingkat tinggi” di tubuh elit politik dan pertarungan politik global, at least “gerakan mahasiswa” menjadi pemantik perubahan. Untuk kesekian-kalinya “angkatan muda” memberikan sumbangsih yang tidak kecil bagi sejarah Indonesia.
Reformasi Mei ’98 adalah peristiwa besar dalam sejarah Indonesia kontemporer. Peristiwa ini menjadi penyebab tumbangnya rezim otoriter Soeharto yang telah berkuasa selam 32 tahun. Reformasi ’98 tidak dapat kita lepaskan dari praktik politik Orde Baru yang otoriter dan menindas rakyat. Akumulasi penderitaan rakyat atas kebijakan pemerintah yang anti-rakyat dan represif melahirkan perlawanan yang dipelopori mahasiswa dan didukung sepenuhnya oleh rakyat. “Gerakan Mahasiswa ‘98” tidak lahir secara tiba-tiba. Perlawanan-perlawanan ‘kecil’ telah lama disulut, mulai dengan aksi-aksi advokasi kasus-kasus kerakyatan di era 1980-an sampai 1990-an, demonstrasi-demontrasi yang marak di medio 1990-an adalah ‘pra-kondisi’ Reformasi Mei ’98. Mei ’98 adalah puncak dari akumulasi perlawanan rakyat terhadap rezim Soeharto. Muncullah beberapa pemimpin-pemimpin dari “angkatan muda”, sekadar menyebut nama untuk menjadi contoh; munculnya Muhammad Syafi’ Alielha, dengan keberanian dan kegigihannya dalam memimpin aksi-aksi demonstrasi besar di Jakarta yang mengakibatkan Soeharto lengser.
Syafi’ Alielha adalah korban pendidikan Orde Baru. Tapi Syafi’ Alielha dan kawan-kawan sezamannya kemudian sadar bahwa pendidikan Orde Baru adalah pembodohan. Sampai pada satu titik di mana mereka mampu mengkomunikasikannya dengan rakyat. Rakyat Indonesia – termasuk mahasiswa – yang berada dalam situasi de-politisasi dan de-ideologisasi mampu menemukan kesadaran politiknya dan bangkit melawan tirani. Reformasi ’98 adalah buah dari kesadaran mahasiswa atas kondisi sosial-politik Indonesia.
Kisah Pedih Kaum Muda
Sejarah Indonesia juga berisi sejarah ‘penghianatan’ terhadap kaum muda. Entah yang dilakukan oleh kaum tua ataupun oleh kaum muda sendiri. Kemerdekaan 45 menunjukkan adanya pengkebirian terhadap kaum muda oleh kaum tua. Ini dapat dilihat dari sedikitnya peranan “angkatan muda” dalam menentukan dan mengisi perjalanan kemerdekaan Indonesia. Peristiwa ’66 berbeda, “angkatan muda” justru berbondong-bondong masuk ke ruang-ruang politik. Seperti masuknya para eksponen ’66 dalam parlemen. Sehingga, karena tetap minoritas, peran mereka sangat kecil. Bahkan banyak yang menjalin hubungan ‘cinta-buta’ dengan penguasa. Akhirnya, mereka menjadi bagian integral dari the rulling-class dan tidak lagi memegang teguh ‘garis perjuangan’.
Banyak generasi ’66 yang kecewa terhadap kawan seperjuangannya, banyak yang frustasi dan tidak sedikit yang menarik diri dari gelanggang pertarungan politik. Soe Hok Gie dapat kita sebut. Tentu kawan-kawan mengenal nama ini, karena baru-baru ini ada yang mengangkat perjalanannya kedalam sebuah film layar lebar dengan judul “Gie”. Di samping ABRI (baca: TNI), Golkar dan birokrasi, kita harus akui dengan jujur, beberapa aktifis gerakan mahasiswa ’66 yang ‘oportunis’ dan ‘advonturir’ juga menjadi penopang rezim Orde Baru. Tidak mengherankan jika perlawanan-perlawanan di awal masa kekuasaan Soeharto mengakibatkan pergolakan politik. Setelah peristiwa Malari di 5 Januari 1974 dan penangkapan mahasiswa di 1978, kekuasaan Soeharto baru melenggang.
Reformasi juga menyimpan banyak cerita, tidak hanya cerita kemenangan dan kekalahan, tetapi juga cerita ‘penghianatan’. Setelah rezim Soeharto tumbang dan “angkatan tua” kembali mengambil tampuk kekuasaan, “angkatan muda” seolah-olah kehilangan orientasi perjuangannya. Banyak “angkatan muda” yang kemudian kembali kepada kekuatan-kekuatan tradisional yang ada. Tidak sedikit dari “angkatan muda” yang melakukan kapitulasi kepemimpinan dan dengan kesadaran penuh menyerahkan kepemimpinan nasional kepada elit-elit lama yang sok reformis. Akhirnya reformasi berada di lintasan terjal yang tak berarah. Konsolidasi demokrasi yang menjadi salah satu ukuran keberhasilan reformasi, tidak pernah menemukan bentuknnya. Pemilu yang berlangsung tidak lebih dari upaya ‘penebusan dosa’ semu bagi kekuatan-kekuatan lama. Ternyata sejarah “angkatan muda” juga memuat sejarah kegagalan.
Yang Muda Yang Memimpin
Dari semua episode sejarah Indonesia, peranan “angkatan muda” nyata adanya. Tetapi, sejarah “angkatan muda” juga berada di persilangan jalan. Antara jalan “kemenangan” dan jalan “kegagalan”. Antara “harapan” dan “keputusasaan”. Itulah dinamika laku sosial-politik “angkatan muda” Indonesia dalam pentas sejarah negerinya. Dari kemenangan dan catatan kegemilangan yang pernah terukir, tentu kita mendapati pelajaran yang sangat berharga. Capaian yang pantas untuk dijadikan pelajaran oleh generasi berikutnya. Pun, kekalahan dan catatan buram. Harus menjadi cambuk bagi mereka si penerus perjuangan.
Pepatah orang Perancis, l’histoire se repete (sejarah akan berulang) mungkin dapat menggambarkan sekian babak sejarah “angkatan muda” Indonesia. Dari beberapa babak yang telah berlangsung, dapat kita lihat beberapa pengulangan-pengulangan itu. Pertama, “angkatan muda” selalu menjadi avant-garde dan agen perubahan. Mereka berani mempelopori dan memimpin perjuangan, berada di depan massa-rakyat untuk vis a vis dengan penguasa yang lalim. Kedua, “angkatan muda” mampu mendobrak kebuntuan-kebuntuan situasi. Dengan keberanian dan semangat juang yang tinggi, politik “angkatan muda” bisa menggoncang tatanan sosial-politik yang sudah mapan selama puluhan tahun. Bahkan mampu merubah struktur sosial-politik yang ada. Ketiga, “angkatan muda” mempengaruhi arah bagi jalannya perubahan. Keteguhan moral dan keberpihakan kepada kepentingan rakyat dan tegaknya keadilan adalah guide-line dari garis politik “angkatan muda”. Itulah pengulangan-pengulangan peran “angkatan muda” dari satu peristiwa sejarah ke peristiwa sejarah lainnya.
Dari sejarah kegagalan perjuangan “angkatan muda”, dapat kita catat beberapa pengulangan; Pertama, tidak mempunyai alat perjuangan yang relatif solid dan mempunyai proyeksi jangka panjang. Sehingga selalu gagal mengawal masa transisi, wajar jika tidak berhasil mengarahkan dan menuntaskan perjuangan. Kedua, selalu melakukan kapitulasi kepemimpinan politik kepada “angkatan tua”. Padahal “angkatan muda” adalah pemenang atas ‘pertarungan’ politik di ‘babak pertama’ perjuangan. Akhirnya, “angkatan muda” tidak pernah mampu menciptakan pemimpin-pemimpin politik dari kalangan mereka sendiri. Ketiga, selalu ditinggalkan oleh kawan mereka sendiri. Bahkan tidak jarang dikhianati oleh kawannya sendiri. Dalam kasus ini, penetrasi “angkatan tua” tentu tidak dapat dipandang sebelah mata.
Sudah waktunya, bagi “angkatan muda” Indonesia sekarang untuk belajar dari sejarah yang pernah diukir oleh “angkatan muda” sebelumnya. Dengan belajar, kita berharap tidak akan mengulangi kembali kegagalan-kegagalan yang pernah terjadi. Dengan belajar, tentu kita juga berharap dapat mengulangi kemenangan-kemenangan yang pernah didulang. Belajar dari kegagalan dan kemenangan. Belajar untuk dapat mempertahankan prinsip dan keberpihakan pada kepentingan umum. Belajar untuk mengubur dalam-dalam kepentingan sesaat atau keinginan mengeruk kekayaan dengan jalan korupsi. Biar l’histoire se repete kemenanganlah yang akan berulang. Saatnya juga bagi “angkatan muda” membangun kekuatan, organisasi, perkumpulan untuk mendorong lahirnya pemimpin-pemimpin dari angkatannya sendiri. Agar cita-cita kemerdekaan dan reformasi dapat terus diperjuangkan dan diwujudkan. Hal ini harus menjadi kesadaran “angkatan muda” di tengah “angkatan tua” yang hipokrit dan anti-rakyat.
Akhir dari Awalan
Dahulu, anak-anak muda China, begitu iri dengan Jepang. Bagaimana tidak iri, jika di akhir abad ke-19 Jepang sudah mengalami kemajuan yang pesat. Sedangkan China, bangsa yang dapat dikatakan sebagai saudara tua-nya Jepang, masih berada dalam era feodal dan tertinggal. Dari rasa iri itu, anak-anak muda China kemudian bangkit untuk mengejar ketertinggalan dengan berbondong-bondong belajar. Tidak sedikit yang akhirnya belajar ke luar negeri. Tidak lama berselang, China bangkit dengan nasionalismenya di awal abad ke-20. Lambat laun, China menjadi negara yang maju. Dan kita bisa saksikan hari ini, China berubah menjadi negara yang perkembangan ekonominya paling pesat di seantero jagad.
Lain lagi di Kanada, hampir semua mahasiswa jurusan musik mempunyai kesadaran untuk selalu lebih maju dibanding dengan Amerika Serikat, negara tetangganya. Mereka sadar bahwa perkembangan dunia industri musik Kanada selalu berada di bawah bayang-bayang Amerika Serikat. Sehingga hal ini mengakibatkan perkembangan industri musik Kanada sangat terganggu. Akhirnya, mereka giat menyelenggarakan pertunjukan musik yang berkelas dunia, agar dunia tahu bahwa musik Kanada tidak kalah dengan Amerika Serikat.
Adalah semangat mengejar ketertinggalan dari negara-negara yang lebih maju. Itulah yang mereka kobarkan untuk mendorong “angkatan muda” berpacu dengan waktu. Untuk menjadi generasi yang tidak hanya berperan sebagai “generasi penikmat” atau “generasi pasar”, tetapi sebagai “generasi pencipta”. Mereka sadar, kalau tidak segera mengejar ketertinggalan, mereka akan menjadi mangsa bagi negara yang lebih maju. Kesadaran maju inilah yang harus kita peluk erat-erat.
Beberapa waktu yang lewat, seorang putra Indonesia menjuarai Olimpiade Fisika Asia 2006 di Singapura. Adalah Jonathan Pradana Mailoa yang menyabet gelar The Absolute Winner dalam event tersebut. Sebelum berlomba, dia pernah berujar “tunggu tahun depan, akan kubuktikan bahwa Indonesia tak selamanya di bawah bayang-bayang China”. Ucapannya terbukti dan ternyata kita bisa. Apakah prestasi Jonathan cukup? Apalagi di tengah-tengah kondisi sosial-politik yang karut-marut seperti sekarang ini. Lebih-lebih di tengah derita bangsa akibat bencana alam yang datang bertubi dan silih berganti. Tidak cukup memang, tetapi setidak-tidaknya dia telah memberi setitik inspirasi bagi puluhan juta anak-anak muda Indonesia yang belum bisa mengenyam pendidikan.
Di samping karena kemiskinan, mahalnya biaya pendidikan sekarang ini telah mengakibatkan banyaknya generasi seusia kalian tidak bisa mengakses pendidikan. Sehingga menjadi mahasiswa adalah keberuntungan yang patut di syukuri. Celaka 13 kalau kesempatan ini disia-siakan. Menjadi mahasiswa bukan berarti menjadi kelas tersendiri dalam masyarakat. Kampus dan dunia mahasiswa tidaklah seperti yang digambarkan dalam sinetron-sinetron. Mahasiswa adalah satu kelompok “angkatan muda” yang berada dalam masyarakat. Jadi tugas mahasiswa adalah menempa diri dengan belajar memahami ilmu-pengetahuan dan belajar memahami realitas sosial-politik. Pengetahuan yang didapatkan harus diabdikan bagi kepentingan umum. Pun, dengan laku mahasiswa, harus menjadi pembela kepentingan rakyat, yaitu kepentingan umum. Mungkin kawan-kawan bisa memulai dengan masuk ke organisasi-organisasi yang maju, berpihak kepada rakyat dan konsisten melawan penguasa yang menindas. Organisasi yang “mendidik rakyat dengan pergerakan dan mendidik penguasa dengan perlawanan”.
Di akhir tulisan ini, penulis hanya ingin menyitir tulisan Paulo Coelho, dalam novelnya yang berjudul The Alchemist:
“orang menjadi tua tidak karena bertambahnya usia, tetapi karena ia menyerah dan mengucapkan selamat tinggal kepada cita-citannya. Ia tidak menjadi tua karena kisut kulitnya, tetapi karena meringkus jiwanya. Kamu akan muda semuda kepercayaanmu, dan kamu akan tua setua keraguanmu. Kamu akan muda semuda harapanmu, dan kamu akan tua setua keputusasaanmu. Maka sejauh keindahan, kegembiraan, keagungan dunia, manusia dan Tuhan merambati hatimu, kamu akan tetap tinggal muda selamanya. Dan saat engkau menginginkan sesuatu, seluruh jagat raya bersatu padu untuk membantumu meraihnya”.
Selamat datang di jagat mahasiswa…!!!
Sampai ketemu di medan perjuangan…!!!
Note: Tulisan ini pernah disampaikan pada Inisiasi Mahasiswa Baru Universitas Sanata Dharma Yogyakarta(Insada) 2006.
Monday, July 09, 2007
Friday, July 06, 2007
Mengenang Marlon Brando Junior
.jpg)

Notable Roles to Notable Struggles
Marlon Brando, Jr.
[April 3, 1924 – July 1, 2004]
Hanya sedikit penikmat film di dunia ini yang tidak mengenal nama di atas. Banyak sineas dan pegiat perfilman generasi ‘Paris Hiltonian’ yang sampai hafal gesture, mimic, dan dialog yang diperankannya, karena seringnya memutar ulang film-film yang diperanin aktor satu ini. Apresiasi atas aktor ini sangat bejibun; dari sekadar apresisasi film, diskusi, tulisan di harian, sampai ulasan di jurnal. Bahkan, para kritikus film masih sering mengulas dan mengkurasinya. Tidak sedikit aktor sekarang menjadikannya inspirator. Ya, bukan satu hal yang mengherankan jika itu semua dialamatkan kepada pemain film ‘kontroversial’ yang punya nama lengkap Marlon Brando Junior.
Adalah salah besar jika tulisan ini hendak ‘melengkapi’ hal-hal di atas karena hanya akan “menabur garam di lautan”, sia-sia alias muspro bin mubadzir. Tulisan ini sekadar ‘cara’ bagi penulis untuk mengingatkan diri sendiri atas seseorang aktor yang laik untuk dikenang. Satu kebetulan belaka jika ini bertepatan dengan tanggal berpulangnya Brando kehadirat-Nya, 1 Juli 2004, tiga tahun yang lalu.
Sosialita yang lahir di Ohama, Nebraska, Amerika Serikat pada tanggal 3 April 1924 ini, sangat panjang catatan hidupnya. David Haward Bain dalam The Old Iron Road: An Epic of Rails, Roads, and the Urge to Go West (New York: Penguin Books, 2004; 65-66) mencatat bahwa Brando Jr. dilahirkan dari pasangan Marlon Brando Sr. (1895–1965) dan Dorothy Pennebaker Brando (1897-1954). Dalam Genealogies of some of the Old Dutch Families of Greene County disebutkan bahwa Brando Jr. adalah keturunan imigran Jerman, Johann Wilhelm Brandau yang tinggal di Amerika Serikat mulai awal 1700-an. Umur 16 tahun, Brando Jr. dikirim ke sekolah militer Shattuck Military Academy di Faribault, Minnesota. Sempat mengenyam pendidikan di kampus tetapi tidak selesai. Lalu, Brando juga pernah menjadi pekerja penggali selokan.
Perjalanan keartisannya dimulai saat dia belajar di American Theatre Wing Professional School, New School Dramatic Workshop, and the Actors' Studio. Di sinilah Brando belajar teknik akting Stanislavski System. Teknik inilah yang sangat berpengaruh pada gaya acting Brando dikemudian hari. Berawal dari Broadway, setelah produser lokal menemukan bakatnya, dia mendapatkan peran pertamannya dalam drama I Remember Mama (1944). Tidak berselang lama, dia ditawari peran oleh sutradara Elia Kazan. Setelah mendapatkan peran dalam A Streetcar Named Desire (Elia Kazan, 1947), seakan menemukan hari baiknya, nasib Brando berjalan seperti Komedi Putar, pelan tapi pasti. Kemampuan aktingnya semakin diperhitungkan oleh banyak kalangan.
Tidak banyak pesohor “Hollywood” maupun di dunia ini yang seperti Brando. Baik jika mau dilihat dari pencapaian di bidang perfilman maupun aktifitas sosial-politiknya. Soal penghargaan di dunia film, tidak usah diragukan lagi. Penghargaan yang diterima diberbagai ajang festival film berderet. Mendapatkan dua kali penghargaan Best Actor di Academy Awards untuk perannya di On the Waterfront (1954) sebagai Terry Malloy dan The Godfather (1972) sebagai Don Vito Corleone. Situs Wikipedia mencatat bahwa Brando juga mendapatkan penghargaan Best Actor di Golden Globe Awards untuk On the Waterfront (1955) dan The Godfather (1973). Brando juga mendapatkan penghargaan Outstanding Supporting Actor – Miniseries or Movies di ajang Emmy Award untuk film Roots: The Next Generations (1979). Seakan tidak mau kalah dengan film festival lainnya, BAFTA Awards bahkan memberikan Best Actor untuk Brando sebanyak tiga kali, masing-masing untuk peran dia di film; Viva Zapata! (1953), Julius Caesar (1954), dan On the Waterfront (1955). Pencapaian yang ruarrr biasa!!!
Tidak jarang lembaga perfilman memberikan penghargaan karena sesuatu hal yang absurd dan tidak fair; faktor kedekatan emosional, perkoncoan sampai suap-menyuap. Seperti yang acapkali terjadi di Indonesia. Masih segar – [maaf ya] sesegar buah dadanya Emma Robert – masyarakat perfilman Indonesia yang dimotori oleh sineas Riri Reza mengembalikan Piala Citra yang diterima sebagai bentuk protes atas dipilihnya film Ekskul sebagai pemenang Festival Film Indonesia (FFI) 2006 serta protes atas model penjurian FFI yang tidak fair dan jauh dari standar ke-sinematografi-an. Memang, di tengah mulai bergeliatnya dunia perfilman Indonesia, persoalan-persoalan perfilman ‘warisan’ rezim otoriter satu demi satu terkuak ke publik. Eksistensi lembaga-lembaga perfilman koorporatisme negara [baca: Orde Baru] mulai diterpa ‘badai’ kritik dan protes. Tidak tanggung-tanggung, protes bahkan digelar oleh mereka-mereka yang masuk dalam ‘inner circle’ bidang perfilman; sutradara, produser, kritikus, dan pegiat perfilman lainnya. Ok lah, masih banyak “pekerjaan rumah” yang perlu dikerjakan oleh pegiat perfilman Indonesia. Biar film tidak hanya berputar-putar menjadi alat untuk mengeruk keuntungan dengan jalan membodohi dan menina-bobokan penonton dengan ‘angin surga’. Hemat saya, mari kita semua, memberikan kesempatan proses yang sedang terjadi berjalan dengan terbuka dan demokratis. Karena film hanyalah alat, maka harus dikembalikan kepada khittah-nya; sebagai medium untuk menyuarakan “good common sense”.
Kembali ke Brando. Kejadian di atas, “Ekskul gate”, tentu tidak berlaku dalam kamus perjalanan karir Brando. Tanpa sedikit pun kesangsian, semua orang salute terhadap kemampuannya. Jadi, adalah menjadi satu kewajaran jika American Film Institute, lembaga perfilman Amerika Serikat yang sangat bergengsi, menempatkannya sebagai salah satu dari empat Greatest Male Star of All Time. Satu apresiasi yang sangat wajar bagi aktor yang berkiprah dalam dunia perfilman dari tahun 1944 – 2001. Setengah abad lebih berkecimpung dalam dunia perfilman bukan waktu yang singkat bagi sebuah proses. Ada banyak pelajaran tentang totalitas, konsistensi dan integritas.
Di samping hal di atas, Brando juga dikenang sebagai seorang aktivis kemanusiaan. Situs Wikipedia mencatat; Brando aktif terlibat dalam aksi-aksi demonstrasi untuk tegaknya Hak Asasi Manusia (HAM) dan enyahnya racial segregation (diskriminasi rasial). Dia terlibat secara aktif di gerakan American Civil Right dan American Indian Movement. Pada Agustus 1963, Brando terlibat aksi demonstrasi Civil Rights March on Washington, D.C. Saat itu, banyak kalangan tercengang atas aktifitas politik Brando. Louie Robinson dalam artikelnya yang dimuat di Jet Magazine (Mei 1968) menulis: “Why Marlon Brando Quit Film for Civil Rights”, seolah-olah mewakili kebingungan publik atas hal tersebut. Tidak hanya itu, Brando juga ikut dalam demonstrasi menentang kebijakan pemerintah atas izin pembangunan perumahan yang sangat diskriminatif. Lebih jauh, Brando juga terlibat dalam the African-American civil rights movement. Bahkan, dia pernah mendonasikan uangnya untuk Southern Christian Leadership Conference (SCLC) dan menjadi salah satu donator lembaga pemberi beasiswa yang berbasis di Mississippi, NAACP.
Keseriusannya dalam perjuangan demi tegaknya HAM dan persamaan rasial dapat dilihat dari kedekatannya dengan Dr. Martin Luther King Jr., pejuang HAM Amerika Serikat. Setelah kematian Dr. King, Brando menegaskan komitmennya untuk meneruskan kerja-kerja Dr. Luther King dan mengumumkan ke publik bahwa untuk menunjukkan penghargaan kepada Dr. King, Brando akan berperan dalam film serius berjudul The Arrangement yang akan melengkapi kampanye perjuangan civil rights movement. Masih terkait dengan kematian Dr. King, perlu kiranya dituliskan ulang peryataan Brando yang cukup mengesankan, seperti yang dilansir oleh Situs Wikipedia: “If the vacuum formed by Dr. King’s death isn’t filled with concern and understanding and a measure of love, then I think we all are really going to be lost here in this country.”
Kekuasaan, uang, kepopuleran, dan jaringan acapkali membuat orang atau kelompok lupa akan hakikatnya masing-masing. Tendensi inilah, dalam pepatah Jawa berbunyi: melik gendong lali, yang sangat rentan bagi mereka yang berangkat dari strata sosial-ekonomi bawah. Secara psikologis, ketika orang yang dari “kelas sudra” berhasil merasakan kenikmatan menjadi “kelas atas”, akan muncul semacam perasaan “dendam”. Sehingga tidak akan lagi melihat untuk sekadar merefleksikan masa lalunya yang suram. Catatan yang kelam itu seakan-akan mau dihapus dengan bergelimangnya kekayaan yang dimiliki. Maka tidak jarang para pesohor sering menutup-nutupi masa lalunya, bahkan tidak mengakuinya. Dalam taraf yang parah, “dendam” tersebut dapat mengarah kepada perasaan “benci” dan “memusuhi” orang-orang yang berasal dari “strata rendah”. Kalau sudah seperti ini, jangan berbicara lagi soal totalitas dan integritas pada bidang garapan yang telah melambungkan namanya, akan berujung pada “menaruh garam di lautan”.
Itulah sekilatan cerita tentang Marlon Brando Junior. Kalau boleh berkelakar, meminjam istilahnya Gramsci tentang “intelektual organik", Brando dapat dikatakan sebagai “aktor organik". Telaah saya, satu sebutan yang tidaklah berlebihan dan pantas untuk diberikan kepada aktor yang “down to earth” ini. Sederhana saja, dia hanya sedikit pesohor papan atas dunia yang masih mempunyai kepedulian atas berbagai persoalan kemanusian dan HAM. Bahkan dia tidak segan-segan melakukan aksi demonstrasi untuk isu-isu yang sangat sensitif dan berbobot politik tingkat tinggi. Brando adalah pesohor yang tidak hanya pantas untuk dikenang, dia adalah manusia yang layak untuk menjadi inspirasi bagi manusia lainnya, terutama bagi mereka yang seprofesi dengan Brando. Dus, kalau para pesohor generasi “Hiltonian” mau menjadikan laku Brando sebagai tamtsil setidaknya akan banyak pesohor punya kepedulian untuk terlibat dalam perjuangan demi tegaknya HAM dan nilai-nilai kemanusiaan. Tidak seperti sekarang ini; hidup mewah, pamer aurat, dan berperilaku buruk. Parahnya, itu dilakukan dihadapan jutaan manusia yang masih hidup di bawah garis kemiskinan.
Akhirnya. Semoga Tuhan menerima arwahmu, Brando. Semoga catatan baikmu menjadi pelajaran bagi manusia lain, amin.
Catatan:
Untuk melengkapi tulisan singkat ini, ada baiknya untuk dimuat daftar film yang pernah diperankan oleh Marlon Brando. Filmography of Marlon Brando’s, seperti yang dilansir dalam Situs Wikipedia, sebagai berikut:
• The Men (1950)
• A Streetcar Named Desire (1951)
• Viva Zapata! (1952)
• Julius Caesar (1953)
• The Wild One (1953)
• On the Waterfront (1954)
• Désirée (1954)
• Guys and Dolls (1955)
• Operation Teahouse (1956) (short subject)
• The Teahouse of the August Moon (1956)
• Sayonara (1957)
• The Young Lions (1958)
• The Fugitive Kind (1959)
• One-Eyed Jacks (1961) (also director)
• Mutiny on the Bounty (1962)
• The Ugly American (1963)
• Bedtime Story (1964)
• Morituri (1965)
• The Chase (1966)
• The Appaloosa (1966)
• Meet Marlon Brando (1966) (short subject)
• A Countess from Hong Kong (1967)
• Reflections in a Golden Eye (1967)
• Candy (1968)
• The Night of the Following Day (1968)
• Burn! (1969)
• King: A Filmed Record... Montgomery to Memphis (1970) (documentary)
• The Night comers (1972)
• The Godfather (1972)
• Last Tango in Paris (1972)
• The Missouri Breaks (1976)
• Raoni (1978) (documentary) (narrator)
• Superman (1978)
• Apocalypse Now (1979)
• The Formula (1980)
• A Dry White Season (1989)
• The Freshman (1990)
• Hearts of Darkness: A Filmmaker's Apocalypse (1991) (documentary)
• Christopher Columbus: The Discovery (1992)
• Don Juan De Marco (1995)
• The Island of Dr Moreau (1996)
• The Brave (1997)
• Free Money (1998)
• The Score (2001)
• Superman Returns (2006) - Posthumous appearance, appears in archive footage as Jor-El
• Superman II: The Richard Donner Cut (2006)
• BRANDO (2007) TCM Documentary
Upcoming:
• Blood,Sweat,& Brando (2008) (archive footage)
• Big Bug Man (2008) (voice)
Sunday, June 24, 2007
"Love Meeting Love"
Kalimat di atas menyitir judul single pertama Level 42, band jazz ‘funk-fusion’ yang nge-top di era ’80-an. Band yang formasi terkininya diisi oleh Mark King (bass, vokal), Gary Husband (drum), Alan Holdsworth (gitar), dan Mike Lindup (keyboard) pada awal bulan Maret lalu tampil dalam perhelatan jazz terakbar di tanah air. Di pentas dengan tajuk Dji Sam Soe Premium Java Jazz Festival 2007, Level 42 masih ‘menyengat’. Kabar terakhir, mungkin karena ingin menyapa jazz-lovers di seantero tanah air, Level 42 melakukan konser lagi pada bulan Juni 2007 di beberapa kota besar di Indonesia. Jika dilihat dari segi usia, mereka tidak lagi muda, tetapi dalam tiap konsernya, Level 42 seakan tidak mau ‘menyerah’ dengan usia. Orang-orang tua yang penuh dedikasi dan semangat membara untuk menyuarakan keagungan cinta lewat karya musik. Level 42 menyajikan cinta yang universal dan transenden dalam bentuk yang agak ‘berbeda’. Hal ini dapat ditemukan dalam syair lagu mereka. Dengarkan saja lagu yang berjudul Running in the Family, Love Meeting Love, dan Lessons in Love tentu Anda akan merasakan cinta dengan muatan yang ‘berbeda’ itu.
Berbicara tentang cinta memang tidak ada habisnya. Apalagi cinta dalam kemasan ‘picisan’ dan cinta dalam hubungannya dengan seks, sampai hari kiamat datang pun, masih dibicarakan. Bahkan, Michel Foucault pernah melontarkan pertanyaan yang cukup menggelitik: “Adakah tatanan sosial lain yang menyedot perhatian begitu dalam dan panjang sebagaimana seks?” Pun, cinta yang universal dan transenden, sesuatu yang perlu eksplorasi panjang nan lebar. Ada jutaan puisi, drama, novel, cerita pendek, karya psikologi dan bahkan karya filsafat telah lahir untuk mencoba memahami cinta. Orang seperti Santo Augustine, Goethe, Dante, Freud, Giddens, Erich Fromm, Foucault, John Armstrong dan lain-lain telah menghasilkan karya-karya yang sangat inspiratif bagi mereka yang hendak memahami “cinta”. Apakah lahirnya karya dalam bentuk apapun itu – bahkan karya yang masuk kategori ‘magnum opus’ – sudah menguak ‘misteri’ dan perdebatan tentang “cinta”? Hemat saya, belum! Tetapi, karya yang lahir sangatlah membantu dan dapat menjadi clue bagi manusia yang ingin memahami “cinta”. Dan, tulisan ini bukan dimaksudkan sebagai alat bantu memahami “cinta”, melainkan sekadar pengingat bahwa: cinta tidak hanya untuk ‘dirasa’, tetapi cinta musti diberi ‘rasa’.
Bronislow Malinowski, dalam The Sexual Life of Savages (1929; 69) menuliskan bahwa: “cinta adalah hasrat terhadap orang-orang Melanesia dan Eropa, yang menyiksa tubuh dan pikiran. Cinta menyerat kebanyakan orang pada sebuah kebuntuan, skandal dan tragedi. Terkadang, cinta menyinari kehidupan dan membuat hati berbunga dan penuh kegembiraan”. Pernyataan ini didasarkan pada hasil riset Malinowski atas penduduk Pulau Trobriand. Kalau dicermati lebih jauh, Malinowski hendak menyampaikan bahwa “cinta” adalah sesuatu passion yang kemunculannya tidak lepas dari banyak hal yang melingkupi. Syahdan, di zaman Mesir Kuno, cinta digambarkan sebagai “ego yang meluap-luap” dan oleh sebab itu cinta dianggap sebagai “sejenis penyakit”. Meskipun juga diakui mempunyai “kekuatan menyembuhkan”. Dalam “cinta” ternyata ada nestapa dan bahagia. Tetapi, kebanyakan orang lalai, bahwa dalam “cinta” ada nestapa.
Pembahasan akan lebih rumit pada saat “cinta” dikaitkan dengan “seksualitas”. Mengapa rumit? Mengutip Anthony Giddens dalam Transformation of Intimacy (2004; 52) karena: hasrat (passion) dapat dijadikan penanda atas ekspresi hubungan umum antara “cinta” dan “ikatan seksual”. Yang kemudian muncullah istilah “passionate love” (cinta penuh gairah) atau “amour passion”. Lanjut Giddens, cinta penuh gairah ditandai dengan keindahan yang memisahkannya dari rutinitas kehidupan sehari-hari yang cenderung mengundang konflik. Hal ini juga dapat memuat kualitas pesona yang dapat menjadi “kegairahan relegius”. Pada saat bersamaan, dapat mengabaikan kepentingan pribadi – karena keterlilitannya dengan obyek cinta. Dalam konteks hubungan yang personal, cinta yang penuh gairah mirip dengan karisma; cinta mencerabut individu dari keduniaanya dan menghidupkan kesediaan untuk mempertimbangkan pilihan-pilihan radikal dan pengorbanan [Francesco Alberoni, Falling in Love, 1983]. Berdasarkan deskripsi ini, amour passion, jika dilihat dalam konteks “tertib sosial” dan “tugas sosial” – meminjam bahasanya Giddens – merupakan hal yang berbahaya.
Menarik untuk mencermati kembali beberapa tesis Michel Foucault terkait “seksualitas” dan hubungannya dengan “tertib sosial” dan/atau “tugas sosial”. Dalam The History of Sexuality (1981) Foucault memandang “seksualitas” adalah ungkapan yang muncul untuk kali pertama pada abad ke-19. Kata ini muncul dalam istilah teknis Ilmu Biologi dan Ilmu Hewan pada permulaan tahun 1800. Dalam perkembangannya, kata “seksualitas” muncul di The Oxford English Dictionary dengan makna: kualitas menjadi seksual atau melakukan seks. Kata ini semakin sering digunakan dalam buku-buku yang membahas persoalan: mengapa perempuan cenderung terserang beragam penyakit dibandingkan laki-laki. Pembahasan itu terkait dengan upaya menjaga aktifitas seksual feminim secara benar.
Lebih jauh, eksplorasi Foucault tentang manusia modern dan kaitannya dengan institusi modern tertuang dalam istilah “hipotesis represif”. Dalam hipotesis represif, institusi-institusi modern telah memaksa manusia membayar mahal atas manfaat-manfaat yang ditawarkan. Peradaban berarti “disiplin”, dan akhirnya menyatakan ‘kontrol” atas inner drives. Sederhananya, kehidupan sosial modern sebagai fenomena yang secara intrinsik terkait dengan munculnya “kuasa disiplin” (disciplinary power) yaitu sejenis kuasa yang melekat dalam institusi-institusi seperti penjara, rumah sakit jiwa, perusahaan, sekolah atau rumah sakit. Kuasa disiplin inilah yang memproduksi ‘tubuh-tubuh yang jinak’ (docile bodies), yang semua aktifitasnya terkontrol dan teregulasi – ketimbang bertindak secara spontan berdasar dorongan naluri. Dan di sinilah “kekuasaan” tampil di atas segalanya, tentunya sebagai kekuatan pengekang (constraining forces). Di sisi yang berbeda, Foucault melihat bahwa “kekuasaan” juga berfungsi sebagai instrument untuk memproduksi kesenangan. So, “seksualitas” menjadi semacam ‘ruang transfer yang penuh sesak bagi relasi-ralasi kuasa’ yang ada dalam masyarakat modern. Jika sudah seperti ini, “seksualitas” dapat menjadi fokus atas upaya melakukan social control.
Selanjutnya, kalau jeli dalam mengkontekstualisasikan tesis Foucault di atas, orang tidak akan tercengang, heran dan merasa aneh dalam melihat pro-kontra Rancangan Undang-undang Anti Pornografi/Pornoaksi (RUU-APP) di Indonesia atau UU anti-aborsi dan anti-pemakaian kondom yang belakangan ini terjadi di beberapa negara. Bahkan, kalau mau menengok ke belakang, pembatasan reproduksi perempuan dalam Program Keluarga Berencana sebagai “kontrol populasi” adalah bukti nyata bagaimana “power” masuk dalam ranah ‘seksualitas”. Dari fakta tersebut, apakah dapat ditemukan perbedaan mengenai “seksualitas” di zaman Victorian dengan era revolusi teknologi-informasi sekarang ini? Jadi, seksualitas merupakan suatu konstruksi sosial yang beroperasi – secara laten dan manifes – pada wilayah-wilayah kekuasaan. Seksualitas bukan sekadar rentetan munculnya dorongan biologis yang menemukan dan/atau tidak menemukan pelepasannya.
Dalam tulisan singkat ini, penulis hanya mau mengingatkan diri sendiri – syukur-syukur juga dapat mengingatkan orang lain – atas realitas “cinta”, ‘seksualitas”, dan “kekuasaan” adalah beberapa hal yang berkait-kelindan. Kalau terjebak dalam satu ‘kaca mata’, besar kemungkinan akan larut dan menjadi persons yang “mabuk”. Cinta yang menggebu – melampaui nilai-nilai kemanusiaan yang transenden – dapat menjerumuskan orang dalam pengembaraan “cinta penuh gairah” (amour passion). Demikian halnya, kalau hanya ‘mengkotakkan’ cinta dalam pengertian “seksualitas’ semata, bersiap-siaplah menghadapi gelombang ‘kekuasaan’ yang siap sedia mengekang. Baik oleh kekuasaan yang muncul karena adanya relasi sosial-politik, sosial-keagamaan, maupun sosial-ekonomi. Bahkan, di zaman ‘hyper-reality’ seperti sekarang ini, selera dan kecenderungan cinta dan seksualitas perorangan dapat diarahkan dan di-created oleh imperium korporasi global. Kita tanpa sadar – karena faktor wacana, tubuh, iklan dan pencitraan lainnya – hanya bisa mencintai perempuan yang tubuhnya langsing dan tidak bisa orgasme jika berhubungan badan dengan perempuan yang badannya gemuk. Dalam bahasanya Foucault, hal tersebut di atas mengindikasikan adanya “aparat-aparat seksualitas” (apparatus of sexuality) dan adanya “nilai ekonomis tubuh serta kesenangan yang positif” (The History of Sexuality, Vol. II: The Use of Pleasure; 1987). Wallahu a’lam bi Showab.. [Berlanjut, tapi entah kapan?]
Berbicara tentang cinta memang tidak ada habisnya. Apalagi cinta dalam kemasan ‘picisan’ dan cinta dalam hubungannya dengan seks, sampai hari kiamat datang pun, masih dibicarakan. Bahkan, Michel Foucault pernah melontarkan pertanyaan yang cukup menggelitik: “Adakah tatanan sosial lain yang menyedot perhatian begitu dalam dan panjang sebagaimana seks?” Pun, cinta yang universal dan transenden, sesuatu yang perlu eksplorasi panjang nan lebar. Ada jutaan puisi, drama, novel, cerita pendek, karya psikologi dan bahkan karya filsafat telah lahir untuk mencoba memahami cinta. Orang seperti Santo Augustine, Goethe, Dante, Freud, Giddens, Erich Fromm, Foucault, John Armstrong dan lain-lain telah menghasilkan karya-karya yang sangat inspiratif bagi mereka yang hendak memahami “cinta”. Apakah lahirnya karya dalam bentuk apapun itu – bahkan karya yang masuk kategori ‘magnum opus’ – sudah menguak ‘misteri’ dan perdebatan tentang “cinta”? Hemat saya, belum! Tetapi, karya yang lahir sangatlah membantu dan dapat menjadi clue bagi manusia yang ingin memahami “cinta”. Dan, tulisan ini bukan dimaksudkan sebagai alat bantu memahami “cinta”, melainkan sekadar pengingat bahwa: cinta tidak hanya untuk ‘dirasa’, tetapi cinta musti diberi ‘rasa’.
Bronislow Malinowski, dalam The Sexual Life of Savages (1929; 69) menuliskan bahwa: “cinta adalah hasrat terhadap orang-orang Melanesia dan Eropa, yang menyiksa tubuh dan pikiran. Cinta menyerat kebanyakan orang pada sebuah kebuntuan, skandal dan tragedi. Terkadang, cinta menyinari kehidupan dan membuat hati berbunga dan penuh kegembiraan”. Pernyataan ini didasarkan pada hasil riset Malinowski atas penduduk Pulau Trobriand. Kalau dicermati lebih jauh, Malinowski hendak menyampaikan bahwa “cinta” adalah sesuatu passion yang kemunculannya tidak lepas dari banyak hal yang melingkupi. Syahdan, di zaman Mesir Kuno, cinta digambarkan sebagai “ego yang meluap-luap” dan oleh sebab itu cinta dianggap sebagai “sejenis penyakit”. Meskipun juga diakui mempunyai “kekuatan menyembuhkan”. Dalam “cinta” ternyata ada nestapa dan bahagia. Tetapi, kebanyakan orang lalai, bahwa dalam “cinta” ada nestapa.
Pembahasan akan lebih rumit pada saat “cinta” dikaitkan dengan “seksualitas”. Mengapa rumit? Mengutip Anthony Giddens dalam Transformation of Intimacy (2004; 52) karena: hasrat (passion) dapat dijadikan penanda atas ekspresi hubungan umum antara “cinta” dan “ikatan seksual”. Yang kemudian muncullah istilah “passionate love” (cinta penuh gairah) atau “amour passion”. Lanjut Giddens, cinta penuh gairah ditandai dengan keindahan yang memisahkannya dari rutinitas kehidupan sehari-hari yang cenderung mengundang konflik. Hal ini juga dapat memuat kualitas pesona yang dapat menjadi “kegairahan relegius”. Pada saat bersamaan, dapat mengabaikan kepentingan pribadi – karena keterlilitannya dengan obyek cinta. Dalam konteks hubungan yang personal, cinta yang penuh gairah mirip dengan karisma; cinta mencerabut individu dari keduniaanya dan menghidupkan kesediaan untuk mempertimbangkan pilihan-pilihan radikal dan pengorbanan [Francesco Alberoni, Falling in Love, 1983]. Berdasarkan deskripsi ini, amour passion, jika dilihat dalam konteks “tertib sosial” dan “tugas sosial” – meminjam bahasanya Giddens – merupakan hal yang berbahaya.
Menarik untuk mencermati kembali beberapa tesis Michel Foucault terkait “seksualitas” dan hubungannya dengan “tertib sosial” dan/atau “tugas sosial”. Dalam The History of Sexuality (1981) Foucault memandang “seksualitas” adalah ungkapan yang muncul untuk kali pertama pada abad ke-19. Kata ini muncul dalam istilah teknis Ilmu Biologi dan Ilmu Hewan pada permulaan tahun 1800. Dalam perkembangannya, kata “seksualitas” muncul di The Oxford English Dictionary dengan makna: kualitas menjadi seksual atau melakukan seks. Kata ini semakin sering digunakan dalam buku-buku yang membahas persoalan: mengapa perempuan cenderung terserang beragam penyakit dibandingkan laki-laki. Pembahasan itu terkait dengan upaya menjaga aktifitas seksual feminim secara benar.
Lebih jauh, eksplorasi Foucault tentang manusia modern dan kaitannya dengan institusi modern tertuang dalam istilah “hipotesis represif”. Dalam hipotesis represif, institusi-institusi modern telah memaksa manusia membayar mahal atas manfaat-manfaat yang ditawarkan. Peradaban berarti “disiplin”, dan akhirnya menyatakan ‘kontrol” atas inner drives. Sederhananya, kehidupan sosial modern sebagai fenomena yang secara intrinsik terkait dengan munculnya “kuasa disiplin” (disciplinary power) yaitu sejenis kuasa yang melekat dalam institusi-institusi seperti penjara, rumah sakit jiwa, perusahaan, sekolah atau rumah sakit. Kuasa disiplin inilah yang memproduksi ‘tubuh-tubuh yang jinak’ (docile bodies), yang semua aktifitasnya terkontrol dan teregulasi – ketimbang bertindak secara spontan berdasar dorongan naluri. Dan di sinilah “kekuasaan” tampil di atas segalanya, tentunya sebagai kekuatan pengekang (constraining forces). Di sisi yang berbeda, Foucault melihat bahwa “kekuasaan” juga berfungsi sebagai instrument untuk memproduksi kesenangan. So, “seksualitas” menjadi semacam ‘ruang transfer yang penuh sesak bagi relasi-ralasi kuasa’ yang ada dalam masyarakat modern. Jika sudah seperti ini, “seksualitas” dapat menjadi fokus atas upaya melakukan social control.
Selanjutnya, kalau jeli dalam mengkontekstualisasikan tesis Foucault di atas, orang tidak akan tercengang, heran dan merasa aneh dalam melihat pro-kontra Rancangan Undang-undang Anti Pornografi/Pornoaksi (RUU-APP) di Indonesia atau UU anti-aborsi dan anti-pemakaian kondom yang belakangan ini terjadi di beberapa negara. Bahkan, kalau mau menengok ke belakang, pembatasan reproduksi perempuan dalam Program Keluarga Berencana sebagai “kontrol populasi” adalah bukti nyata bagaimana “power” masuk dalam ranah ‘seksualitas”. Dari fakta tersebut, apakah dapat ditemukan perbedaan mengenai “seksualitas” di zaman Victorian dengan era revolusi teknologi-informasi sekarang ini? Jadi, seksualitas merupakan suatu konstruksi sosial yang beroperasi – secara laten dan manifes – pada wilayah-wilayah kekuasaan. Seksualitas bukan sekadar rentetan munculnya dorongan biologis yang menemukan dan/atau tidak menemukan pelepasannya.
Dalam tulisan singkat ini, penulis hanya mau mengingatkan diri sendiri – syukur-syukur juga dapat mengingatkan orang lain – atas realitas “cinta”, ‘seksualitas”, dan “kekuasaan” adalah beberapa hal yang berkait-kelindan. Kalau terjebak dalam satu ‘kaca mata’, besar kemungkinan akan larut dan menjadi persons yang “mabuk”. Cinta yang menggebu – melampaui nilai-nilai kemanusiaan yang transenden – dapat menjerumuskan orang dalam pengembaraan “cinta penuh gairah” (amour passion). Demikian halnya, kalau hanya ‘mengkotakkan’ cinta dalam pengertian “seksualitas’ semata, bersiap-siaplah menghadapi gelombang ‘kekuasaan’ yang siap sedia mengekang. Baik oleh kekuasaan yang muncul karena adanya relasi sosial-politik, sosial-keagamaan, maupun sosial-ekonomi. Bahkan, di zaman ‘hyper-reality’ seperti sekarang ini, selera dan kecenderungan cinta dan seksualitas perorangan dapat diarahkan dan di-created oleh imperium korporasi global. Kita tanpa sadar – karena faktor wacana, tubuh, iklan dan pencitraan lainnya – hanya bisa mencintai perempuan yang tubuhnya langsing dan tidak bisa orgasme jika berhubungan badan dengan perempuan yang badannya gemuk. Dalam bahasanya Foucault, hal tersebut di atas mengindikasikan adanya “aparat-aparat seksualitas” (apparatus of sexuality) dan adanya “nilai ekonomis tubuh serta kesenangan yang positif” (The History of Sexuality, Vol. II: The Use of Pleasure; 1987). Wallahu a’lam bi Showab.. [Berlanjut, tapi entah kapan?]
Sunday, December 31, 2006
Mimpikan Hidup dan Hidupkan Mimpi
Di zaman yang serba susah seperti sekarang ini, seakan turut berimbas pada kemampuan manusia untuk bermimpi. Seolah-olah manusia terkungkung dalam kemapanannya masing-masing. Manusia memang mempunyai kecenderungan mapan dan termapankan. Meskipun kondisi yang melingkupi hari-hari tidak dapat dikatakan baik atau mendingan. Terlepas dari kecenderungan seperti itu, menurut hemat saya, ada semacam 'social-engineering' yang meng-created-nya. Manusia didorong untuk meyakini satu sikap dimana tidak mempunyai dorongan dan keberanian untuk mendobrak paugeran sosial yang telah mapan. Sekadar contoh, orang Jawa dicekoki dengan adagium "narimo ing pandum" yang terus menerus direproduksi. Di beberapa daerah dirongrong oleh mentalitas pragmatis yang menggerus tata sosial kolektif. Seakan manusia didorong pada sisi-sisi yang ekstrem. Yang hanya menyediakan sedikit menu atau pilihan. Pada level global, kecenderungan ekstremisme itu hampir menghinggapi negara-negara dunia ketiga. Pilihan perlawanannya juga mengarah kekecenderungan tersebut, ambil contoh terorisme dan kekerasan lainnya. Bagi Khalid abu al-Fadl, seorang intelektual Amerika, hal tersebut hanyalah impact dari ketidakmampuan mereka beradaptasi dengan moderenitas. Sehingga ketika sudah tidak mampu 'mengejar' ketertinggalan' mereka akan mengambil langkah ekstrem tersebut.
Revolusi teknologi komunikasi-informasi yang dahsyat di satu sisi sangat membantu mutu kehidupan ini, tetapi di sisi yang lain telah menciptakan manusia -- terutama mereka yang tinggal di negara-negara terbelakang, seperti Indonesia -- sekadar berperan sebagai penikmat dan menjadi target sasaran konsumen. Di Indonesia, moderenisasi hanya berkutat pada life-style tidak sampai menjadi state of mind. Akhirnya tidaklah mengherankan jika banyaknya cafe-cafe, club-club malam, mal dan lain-lain yang berlomba menyedikan fasilitas -- termasuk hot-spot area -- dan layanan tidak serta-merta merangsang orang melahirkan gagasan dan ide-ide baru tentang kemajuan. Di high-level, elit politik yang ada tidak ada pikiran untuk memajukan kehidupan tata sosial dan tata ekonomi yang ada. Klop-lah jadinya... Dus, wajar saja kalau selalu meluncur ungkapan-ungkapan yang tendensinya 'hopeless'; ya udah mau gimana lagi, ABCD (Aduh Bo' Capek Dech), emang gue pikirin dan lainnya.
Dari hari ke hari semakin sedikit manusia yang berani bermimpi. Memimpikan kemajuan, perbaikan, dan perubahan lainnya. Akhirnya menerima, pasrah dan acuh atas jalannya kehidupan personal dan sosialnya. Apakah yang akan terjadi jika seorang atau sekelompok orang tidak lagi mempunyai "mimpi" personal dan kolektif...? Padahal, dalam beberapa catatan sejarah, kemajuan dan perbaikan selalu dilahirkan dari lahirnya "mimpi" personal yang mengkolektif. Jawabannya adalah; "hidup tapi tak menghidupi" dan "mati tapi tak meninggalkan".
Memimpikan hidup adalah satu cita atau keinginan yang terus tertanam dalam sanubari setiap insan untuk dapat mempertahankan, meningkatkan dan menciptakan satu tata-sosial dan tata-ekonomi yang baik menjadi lebih baik dan seterusnya. Hal ini tidak ada urusannya dengan seseorang tersebut Yahudi atau Islam, Kapitalis atau Sosialis, Moderat atau Ekstrem. Hal ini berhubungan dengan cita yang kemanusiaan yang transenden.
Selanjutnya, memimpikan hidup yang seperti di atas akan terjebak pada ilusi atau utopi yang tak bertepi jika tidak ada road maps to do it . Di sinilah, letak pertautan antara kolektifitas dan individualitas. Bagaimana merpertemukan antaranya. Tentunya, frame bagaimana menghidupkan mimpi atau mewujudkan mimpi itu dapat menjadi common-sense. So, menghidupkan mimpi tidak sekadar lahirnya capaian-capaian matematis-ekonomis tetapi juga meningkatnya 'mutu' kemanusiaan yang transenden.
"Mimpikan hidup" tidak butuh modal yang besar kecuali keberanian untuk mengangankan perbaikan dan kemajuan, baik secara personal maupun secara kolektif. Sedangkan "hidupkan mimpi" hanya butuh tekad melangkahkan kaki untuk mencipta dan menyongsong datangnya perbaikan dan kemajuan.
"mimpikan hidup dan hidupkan mimpi"... (Berlanjut entah kapan,,,)
Revolusi teknologi komunikasi-informasi yang dahsyat di satu sisi sangat membantu mutu kehidupan ini, tetapi di sisi yang lain telah menciptakan manusia -- terutama mereka yang tinggal di negara-negara terbelakang, seperti Indonesia -- sekadar berperan sebagai penikmat dan menjadi target sasaran konsumen. Di Indonesia, moderenisasi hanya berkutat pada life-style tidak sampai menjadi state of mind. Akhirnya tidaklah mengherankan jika banyaknya cafe-cafe, club-club malam, mal dan lain-lain yang berlomba menyedikan fasilitas -- termasuk hot-spot area -- dan layanan tidak serta-merta merangsang orang melahirkan gagasan dan ide-ide baru tentang kemajuan. Di high-level, elit politik yang ada tidak ada pikiran untuk memajukan kehidupan tata sosial dan tata ekonomi yang ada. Klop-lah jadinya... Dus, wajar saja kalau selalu meluncur ungkapan-ungkapan yang tendensinya 'hopeless'; ya udah mau gimana lagi, ABCD (Aduh Bo' Capek Dech), emang gue pikirin dan lainnya.
Dari hari ke hari semakin sedikit manusia yang berani bermimpi. Memimpikan kemajuan, perbaikan, dan perubahan lainnya. Akhirnya menerima, pasrah dan acuh atas jalannya kehidupan personal dan sosialnya. Apakah yang akan terjadi jika seorang atau sekelompok orang tidak lagi mempunyai "mimpi" personal dan kolektif...? Padahal, dalam beberapa catatan sejarah, kemajuan dan perbaikan selalu dilahirkan dari lahirnya "mimpi" personal yang mengkolektif. Jawabannya adalah; "hidup tapi tak menghidupi" dan "mati tapi tak meninggalkan".
Memimpikan hidup adalah satu cita atau keinginan yang terus tertanam dalam sanubari setiap insan untuk dapat mempertahankan, meningkatkan dan menciptakan satu tata-sosial dan tata-ekonomi yang baik menjadi lebih baik dan seterusnya. Hal ini tidak ada urusannya dengan seseorang tersebut Yahudi atau Islam, Kapitalis atau Sosialis, Moderat atau Ekstrem. Hal ini berhubungan dengan cita yang kemanusiaan yang transenden.
Selanjutnya, memimpikan hidup yang seperti di atas akan terjebak pada ilusi atau utopi yang tak bertepi jika tidak ada road maps to do it . Di sinilah, letak pertautan antara kolektifitas dan individualitas. Bagaimana merpertemukan antaranya. Tentunya, frame bagaimana menghidupkan mimpi atau mewujudkan mimpi itu dapat menjadi common-sense. So, menghidupkan mimpi tidak sekadar lahirnya capaian-capaian matematis-ekonomis tetapi juga meningkatnya 'mutu' kemanusiaan yang transenden.
"Mimpikan hidup" tidak butuh modal yang besar kecuali keberanian untuk mengangankan perbaikan dan kemajuan, baik secara personal maupun secara kolektif. Sedangkan "hidupkan mimpi" hanya butuh tekad melangkahkan kaki untuk mencipta dan menyongsong datangnya perbaikan dan kemajuan.
"mimpikan hidup dan hidupkan mimpi"... (Berlanjut entah kapan,,,)
Friday, December 08, 2006
The Power of Dream
“We’re never given dreams, without also being given the power to make them come true”, Kita tidak hanya diberi kemampuan bermimpi, namun juga dibekali kekuatan untuk mewujudkan mimpi - mimpi tersebut menjadi kenyataan.
Suatu saat, saya pernah mengirim SMS untuk seorang teman, yang berbunyi sebagai berikut, "Hidup memang seringkali berjalan tidak sesuai harapan, saya pribadi lebih mempercayai “The Power of Dream” sebagai satu – satunya alasan untuk tetap tersenyum". SMS tersebut tertanggal 27 April 2003.
Kalimat tersebut muncul menyikapi sinismenya terhadap perubahan sosial yang menurut versinya, tak kunjung datang, atau jikalau dirasa ada, tidak signifikan. Kekecewaan ini sering kali muncul di kalangan teman-teman aktivis, dan kebetulan, teman yang saya hujani SMS tersebut juga tercatat sebagai aktivis -dan sempat beberapa kali berganti "baju" apakah demi berkelit dari funding maupun "reaktif" merespon trend CSO yang berkembang saat itu-.
Jika kita meyakini bahwa tidak ada yang berubah di dunia ini, kecuali perubahan itu sendiri, maka sikap putus asa, menyerah atau apa pun tidak semestinya muncul. Terutama jika kita merumuskan bahwa buah yang nantinya akan kita petik dari "perjuangan" tersebut adalah untuk kepentingan khalayak luas.
Saya terinspirasi untuk memberi judul "The Power of Dream" untuk blog seorang Ah Maftuchan karena keyakinan saya, bahwa seorang Ah tidak hanya mempunyai kemampuan bermimpi tentang dirinya, masyarakatnya, dan negaranya; namun juga membekali dirinya dengan kemampuan untuk mewujudkan mimpi-mimpi tersebut dengan cara-cara tertentu. Entah ini subyektifitas seorang Mirisa Hasfaria, -terkadang, menurut saya, seseorang dengan latar belakang ilmu sosial boleh, sekali dua, melepaskan diri dari obyektifitas yang senantiasa dikaitkan dengan keilmuannya dan kediriannya dalam memahami fenomena sosial-, perjalanan mengenalnya sebagai "sahabat" sejak 19 Maret 2003 lalu membuktikan keyakinan saya ini....
Last but not least, seorang Edith Wharton mengatakan, "Ada dua cara untuk menebarkan cahaya terang; Jadilah nyala lilin atau cermin yang menerima sinarnya".
So, keeps dreaming...
Mirisa Hasfaria, S. IP
Suatu saat, saya pernah mengirim SMS untuk seorang teman, yang berbunyi sebagai berikut, "Hidup memang seringkali berjalan tidak sesuai harapan, saya pribadi lebih mempercayai “The Power of Dream” sebagai satu – satunya alasan untuk tetap tersenyum". SMS tersebut tertanggal 27 April 2003.
Kalimat tersebut muncul menyikapi sinismenya terhadap perubahan sosial yang menurut versinya, tak kunjung datang, atau jikalau dirasa ada, tidak signifikan. Kekecewaan ini sering kali muncul di kalangan teman-teman aktivis, dan kebetulan, teman yang saya hujani SMS tersebut juga tercatat sebagai aktivis -dan sempat beberapa kali berganti "baju" apakah demi berkelit dari funding maupun "reaktif" merespon trend CSO yang berkembang saat itu-.
Jika kita meyakini bahwa tidak ada yang berubah di dunia ini, kecuali perubahan itu sendiri, maka sikap putus asa, menyerah atau apa pun tidak semestinya muncul. Terutama jika kita merumuskan bahwa buah yang nantinya akan kita petik dari "perjuangan" tersebut adalah untuk kepentingan khalayak luas.
Saya terinspirasi untuk memberi judul "The Power of Dream" untuk blog seorang Ah Maftuchan karena keyakinan saya, bahwa seorang Ah tidak hanya mempunyai kemampuan bermimpi tentang dirinya, masyarakatnya, dan negaranya; namun juga membekali dirinya dengan kemampuan untuk mewujudkan mimpi-mimpi tersebut dengan cara-cara tertentu. Entah ini subyektifitas seorang Mirisa Hasfaria, -terkadang, menurut saya, seseorang dengan latar belakang ilmu sosial boleh, sekali dua, melepaskan diri dari obyektifitas yang senantiasa dikaitkan dengan keilmuannya dan kediriannya dalam memahami fenomena sosial-, perjalanan mengenalnya sebagai "sahabat" sejak 19 Maret 2003 lalu membuktikan keyakinan saya ini....
Last but not least, seorang Edith Wharton mengatakan, "Ada dua cara untuk menebarkan cahaya terang; Jadilah nyala lilin atau cermin yang menerima sinarnya".
So, keeps dreaming...
Mirisa Hasfaria, S. IP
Monday, November 20, 2006
memahami mimpi
Banyak studi atau kajian tentang "mimpi" yang telah menghasilkan buku, catatan atau sekadar tulisan beberapa lembar. Dari zaman bahuela sampai zaman teknologi informasi, upaya untuk memahami "mimpi" terus mengalir. Dalam dunia akademik, kajian tentang "mimpi" kurang mendapat perhatian dari sivitas akademika. Kalau ada, hanya sedikit. Pun, terbatas pada mereka yang studi di ilmu psikologi dan ilmu sosial-humaniora lainnya.
Entoh demikian, memaknai "mimpi" seakan telah menjadi bagian integral setiap orang. Setiap hari setiap orang selalu berusaha untuk mengingat mimpi dalam tidurnya semalam. Baik sekadar untuk mengingat, memaknai, menafsiri atau untuk menceritakannya kembali kepada teman kantor, istri dan keluarga. Setiap hari setiap orang juga selalu bergulat dengan waktu dan ruang untuk mewujudkan mimpi. Pertanyaan tentang keyakinan bisa mewujudkan dan meraih "mimpi" selalu 'menghantui'. Mengingat sembari merenungkan "mimpi" apa saja yang sudah berhasil dan belum berhasil direngkuh acapkali muncul. Sederhananya, semua orang -- dari pelbagai kalangan dan tingkat sosial; tidak peduli presiden, menteri, tukang becak, petani di desa dan lainnya -- selalu membicarakan mimpi. Lacurnya, tidak semua orang memahami mimpi. Tentu dalam konteks yang luas.
Anyway, yang pasti semua orang punya hak yang sama untuk ber-"mimpi" dan memahami "mimpi"-nya serta untuk mewujudkan "mimpi"-nya.
"Mimpi" tidak akan menjadi problem sosial. "Mimpi" akan menjadi problem jika "mimpi" itu dikisahkan dan kemudian "dimaknai" dan "ditafsiri". Hal ini sering menjadi pemantik dari terbangun dan/atau retaknya relasi antarmanusia dalam ikatan apapun. Syahdan, sebelum menjadi nabi, Yusuf berkali-kali bermimpi melihat bulan yang besar dan dikelilingi oleh bintang-bintang kecil. Ketika mimpi itu diceritakan kepada orang tuannya, muncullah tafsir atas mimpi itu. Bahwa kelak kemudian, Yusuf akan menjadi pemimpin yang dikelilingi oleh pera pengikutnya, tidak terkecuali oleh para saudara-saudara kandungnya. Sehingga muncullah perhatian dan perlakuan kepada Yusuf yang 'berbeda' dari orang tuannya. Wajar jika kemudian kecemburuan dari saudara-saudaranya bersemi. Akhirnya, relasi sosial atas ikatan genetik tersebut mengalami pergeseran-pergeseran -- untuk tidak mengatakan terjadi konflik.
"Mimpi" dari sisi yang lain tenyata bisa menjadi satu hal yang "dahsyat". Walt Disney, yang sekarang sukses membangun imperium bisnisnya, konon, selalu memegang prinsipnya bahwa "mimpi" akan keberhasilan dan kesuksesannya di masa depan akan terwujud. "Mimpi" juga telah membawa Freud menjadi seorang tokoh besar dalam bidang psiko-analisa. Bukunya yang bertutur tentang "tafsir mimpi" menjadi rujukan manusia modern sejagat dalam memahami "mimpi".
Terakhir dari bagian ini, "mimpi" mempunyai daya dan kecepatan. Sehingga, akan berlaku hukum fisika akan daya dan kecepatan, maka "mimpi" akan menghasilkan "kekuatan" (power). Untuk itulah, judul blog ini tercetus oleh si "pembuatnya" -- yang tentu menjadi bagian dari "mimpi". Maka, MARI BERMIMPI karena "mimpi itu sehat dan menyehatkan". (bagian 1, Seri Memahami Mimpi).
Entoh demikian, memaknai "mimpi" seakan telah menjadi bagian integral setiap orang. Setiap hari setiap orang selalu berusaha untuk mengingat mimpi dalam tidurnya semalam. Baik sekadar untuk mengingat, memaknai, menafsiri atau untuk menceritakannya kembali kepada teman kantor, istri dan keluarga. Setiap hari setiap orang juga selalu bergulat dengan waktu dan ruang untuk mewujudkan mimpi. Pertanyaan tentang keyakinan bisa mewujudkan dan meraih "mimpi" selalu 'menghantui'. Mengingat sembari merenungkan "mimpi" apa saja yang sudah berhasil dan belum berhasil direngkuh acapkali muncul. Sederhananya, semua orang -- dari pelbagai kalangan dan tingkat sosial; tidak peduli presiden, menteri, tukang becak, petani di desa dan lainnya -- selalu membicarakan mimpi. Lacurnya, tidak semua orang memahami mimpi. Tentu dalam konteks yang luas.
Anyway, yang pasti semua orang punya hak yang sama untuk ber-"mimpi" dan memahami "mimpi"-nya serta untuk mewujudkan "mimpi"-nya.
"Mimpi" tidak akan menjadi problem sosial. "Mimpi" akan menjadi problem jika "mimpi" itu dikisahkan dan kemudian "dimaknai" dan "ditafsiri". Hal ini sering menjadi pemantik dari terbangun dan/atau retaknya relasi antarmanusia dalam ikatan apapun. Syahdan, sebelum menjadi nabi, Yusuf berkali-kali bermimpi melihat bulan yang besar dan dikelilingi oleh bintang-bintang kecil. Ketika mimpi itu diceritakan kepada orang tuannya, muncullah tafsir atas mimpi itu. Bahwa kelak kemudian, Yusuf akan menjadi pemimpin yang dikelilingi oleh pera pengikutnya, tidak terkecuali oleh para saudara-saudara kandungnya. Sehingga muncullah perhatian dan perlakuan kepada Yusuf yang 'berbeda' dari orang tuannya. Wajar jika kemudian kecemburuan dari saudara-saudaranya bersemi. Akhirnya, relasi sosial atas ikatan genetik tersebut mengalami pergeseran-pergeseran -- untuk tidak mengatakan terjadi konflik.
"Mimpi" dari sisi yang lain tenyata bisa menjadi satu hal yang "dahsyat". Walt Disney, yang sekarang sukses membangun imperium bisnisnya, konon, selalu memegang prinsipnya bahwa "mimpi" akan keberhasilan dan kesuksesannya di masa depan akan terwujud. "Mimpi" juga telah membawa Freud menjadi seorang tokoh besar dalam bidang psiko-analisa. Bukunya yang bertutur tentang "tafsir mimpi" menjadi rujukan manusia modern sejagat dalam memahami "mimpi".
Terakhir dari bagian ini, "mimpi" mempunyai daya dan kecepatan. Sehingga, akan berlaku hukum fisika akan daya dan kecepatan, maka "mimpi" akan menghasilkan "kekuatan" (power). Untuk itulah, judul blog ini tercetus oleh si "pembuatnya" -- yang tentu menjadi bagian dari "mimpi". Maka, MARI BERMIMPI karena "mimpi itu sehat dan menyehatkan". (bagian 1, Seri Memahami Mimpi).
Friday, November 03, 2006
Subscribe to:
Posts (Atom)